Semarak Hari Tari Internasional: Menari sebagai Ekspresi, Edukasi, dan Jalan Prestasi di SMK Al-Mukhtariyah

Dalam rangka memperingati Hari Tari Internasional, SMK Al-Mukhtariyah menghadirkan semangat baru dalam melestarikan budaya sekaligus mengembangkan potensi peserta didik melalui seni tari. Tidak hanya sebagai kegiatan hiburan, tari di sekolah ini menjadi wadah pembentukan karakter, kepercayaan diri, hingga kecerdasan intelektual.

Melalui ekstrakurikuler tari, peserta didik tidak hanya belajar gerakan, tetapi juga memahami makna, disiplin, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Untuk menggali lebih dalam, tim redaksi mewawancarai guru seni tari serta salah satu siswi aktif yang menjadi bagian dari ekskul tersebut.

Peran Pak Teguh dalam Mengembangkan Ekstrakurikuler Tari

Dalam kegiatan ekstrakurikuler tari di SMK Al-Mukhtariyah, peran pembina menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan siswa. Salah satu pembina yang berperan besar adalah Moch. Tri Teguh, S.Pd. Melalui bimbingannya, siswa tidak hanya belajar gerakan tari, tetapi juga memahami makna, kekompakan, serta kepercayaan diri saat tampil di depan umum.

Pak Teguh dikenal sebagai sosok yang disiplin, kreatif, dan mampu membimbing siswa dengan pendekatan yang sabar serta menyenangkan. Ia tidak hanya fokus pada teknik, tetapi juga menanamkan nilai budaya dan kerja sama dalam setiap latihan. Hal ini membuat siswa mampu berkembang baik dari segi keterampilan maupun mental.

Moch. Tri Teguh, S.Pd lahir pada 14 April 1996 dan merupakan lulusan S1 Pendidikan Khusus. Ia memiliki keahlian dalam bidang tari tradisional dan kontemporer yang menjadi dasar dalam membimbing siswa. Pengalamannya dalam dunia pendidikan cukup luas, di mana ia pernah mengajar di MTs Al-Mukhtariyah, SMK Al-Mukhtariyah, SLB YKB Wartawan Buah Batu, serta SLB Nike Ardila.

Selain aktif mengajar, Pak Teguh juga terus mengembangkan kemampuannya dengan mengikuti berbagai pelatihan dan workshop di bidang seni serta psikologi anak. Hal ini membantunya dalam memahami karakter siswa dan menciptakan metode pembelajaran yang efektif.

Dalam bidang prestasi, Pak Teguh pernah meraih Juara 2 dalam pergelaran tari di Yogyakarta. Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan seni, seperti Festival Pasanggiri Jaipongan Kabupaten Bandung, Gelar Karya Guru dan Pembina se-Indonesia di Yogyakarta, serta berbagai pertunjukan semesteran.

Pak Teguh mengungkapkan bahwa kecintaannya terhadap seni tari telah tumbuh sejak ia duduk di bangku SMP. Ketertarikan itu bukan tanpa alasan.

Ia menjelaskan bahwa tari menjadi cara baginya untuk mengekspresikan perasaan. “Saya memang bukan tipe orang yang mudah mengungkapkan lewat lisan, kadang suka terbata-bata. Tapi lewat tari, semuanya bisa tersampaikan. Selain itu, menari juga membuat saya merasa lebih bahagia dan bisa sedikit menghilangkan stres,” tuturnya.

Dalam dunia pendidikan, ia memandang tari sebagai jembatan antara budaya dan intelektual. Menurutnya, seseorang yang mampu menari menunjukkan kemampuan koordinasi yang tinggi antara musik, gerakan, dan kerja otak. Hal ini secara tidak langsung melatih kecerdasan.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa ekstrakurikuler tari memiliki peran besar dalam perkembangan peserta didik. Selain meningkatkan intelektual, kegiatan ini juga mampu membentuk rasa percaya diri. Ia bahkan menyaksikan perubahan nyata pada siswanya.

“Yang awalnya malu, sekarang jadi berani. Yang tadinya kaku, sekarang lebih luwes, bukan hanya dalam gerakan, tapi juga dalam bersosialisasi,” ujarnya.

Namun, di balik itu semua, ada tantangan tersendiri. Ia mengungkapkan masih adanya stigma, terutama di kalangan siswa laki-laki. “Masih ada yang berpikir ‘laki-laki kok menari’. Padahal dalam sejarah, tari klasik justru awalnya dilakukan oleh pria,” jelasnya. Meski demikian, ia melihat perubahan positif, terutama pada siswa kelas X yang mulai aktif dan menunjukkan bakatnya.

Dalam membangun kepercayaan diri siswa, ia tidak hanya melatih teknik, tetapi juga memberikan pemahaman tentang sejarah dan manfaat tari. Harapannya, siswa tidak hanya menjadikan tari sebagai hobi, tetapi juga sebagai potensi masa depan.

“Saya berharap ini bisa menjadi bakat yang berkembang, bahkan menjadi sumber penghasilan. Tapi yang paling penting, tetap menjaga budaya,” pesannya.

Momen Berkesan dan Dedikasi dalam Dunia Tari

Selama mengajar, banyak pengalaman berkesan yang ia rasakan. Salah satu yang paling membanggakan adalah saat peserta didik tampil dan mendapatkan apresiasi dari lingkungan sekolah.

Ia juga menceritakan bagaimana beberapa siswa yang awalnya tidak bisa menari, kini justru berkembang pesat dan aktif di lingkungannya.

Keunikan peserta didik SMK Al-Mukhtariyah, menurutnya, terletak pada kemampuan mereka memadukan budaya dengan nilai keislaman. Hal ini menjadi ciri khas yang tidak dimiliki semua sekolah.

Menutup wawancara, ia menyampaikan pesan yang tegas namun memotivasi:
“Untuk apa ragu? Kalau tidak dilatih dari sekarang, mau kapan? Bakat tidak akan berkembang kalau tidak diasah.”

Dari Hobi Menjadi Percaya Diri: Cerita Hilma dalam Dunia Tari

Semangat yang sama juga dirasakan oleh Hilma Zahrotun Nida, peserta didik kelas XI MP2 yang aktif dalam ekstrakurikuler tari.

Hilma mulai bergabung sejak awal masuk sekolah. Baginya, menari bukan hanya sekadar kegiatan, tetapi juga bentuk kecintaan terhadap budaya sekaligus cara mengekspresikan diri.

Ia mengaku, “Aku tertarik karena ingin melestarikan budaya, dan ini juga hobi. Menari itu menyenangkan, bisa jadi cara untuk melepas capek setelah belajar di kelas.”

Selama mengikuti kegiatan, ia merasakan banyak pengalaman berharga. Meski latihan terkadang melelahkan, ada kepuasan tersendiri ketika berhasil menguasai gerakan sulit.

Manfaat yang ia rasakan pun sangat beragam, mulai dari kebugaran fisik, kedisiplinan, hingga meningkatnya rasa percaya diri. Ia juga belajar pentingnya kerja sama dalam tim.

Namun, perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Tantangan terbesar baginya adalah menghafal gerakan dan menjaga kekompakan tim. Meski begitu, semua terbayar saat momen tampil tiba.

“Momen paling berkesan itu saat gladi bersih dan tampil di depan banyak orang. Rasanya campur aduk antara senang dan gugup, tapi juga bangga,” ungkapnya.

Kini, Hilma merasakan perubahan besar dalam dirinya. Dari yang dulu kurang percaya diri, ia menjadi lebih berani dan menghargai proses.

Ia juga mengakui peran besar guru dalam perjalanannya. Menurutnya, pembina tari tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga memberikan motivasi dan kritik yang membangun.

Menutup ceritanya, ia memberikan pesan sederhana namun kuat:
“Jangan ragu untuk mencoba. Menari bukan soal langsung bisa, tapi soal kemauan untuk belajar dan menikmati prosesnya.”

Semangat yang Sama, Cerita Berbeda: Salwa dan Perjalanan Menemukan Percaya Diri

Semangat untuk berkembang melalui seni tari juga datang dari Salwa Faujiah, peserta didik kelas X MP1 MPLB. Berbeda dengan Hilma, Salwa telah mengenal dunia tari sejak duduk di bangku MTs kelas 8.

Ketertarikannya pada tari tumbuh secara alami. Ia mengaku sudah menyukai dunia tari sejak kecil, hingga akhirnya mantap untuk melanjutkan minatnya melalui ekstrakurikuler di sekolah.

“Dari kecil memang sudah suka menari, jadi pas masuk sekolah ini, aku langsung tertarik ikut ekskul tari,” ungkapnya.

Selama mengikuti kegiatan, Salwa merasakan kebahagiaan tersendiri. Baginya, menari bukan hanya aktivitas, tetapi juga ruang untuk berkembang. Ia menyebutkan bahwa banyak manfaat yang ia rasakan, mulai dari meningkatnya rasa percaya diri, kemampuan bekerja sama, hingga mengenal beragam budaya, baik budaya sendiri maupun budaya lain.

Namun, di balik kesenangan itu, ada proses yang tidak mudah. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam belajar tari adalah pada penghayatan, baik dari ekspresi wajah maupun gerakan, serta kemampuan menghafal dan menyelaraskan gerakan dengan musik.

Momen paling berkesan baginya bukan hanya saat tampil, tetapi justru saat proses latihan. “Yang paling berkesan itu saat berjuang latihan untuk menampilkan yang terbaik,” ujarnya.

Perjalanan tersebut membawa perubahan besar dalam dirinya. Ia merasa kini menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Menurutnya, tidak semua orang berani tampil di depan banyak orang, dan melalui tari, ia berhasil melewati ketakutan tersebut.

Salwa juga menyoroti pentingnya peran guru dalam proses perkembangannya. Ia merasa pembina tari sangat membantu dalam menggali potensi serta mengembangkan bakat yang dimilikinya.

Ia memberikan pesan penuh semangat kepada teman-temannya:
“Jangan takut mencoba ekskul tari. Kalau gagal, jangan menyerah. Terus berjuang, karena perjuangan tidak akan mengkhianati hasil. Selain itu, kalian juga bisa melatih kepercayaan diri dan mengenal budaya. Pokoknya seru banget!”

Ekskul Tari: Ruang Berkembang Tanpa Batas

Hari Tari Internasional menjadi momentum untuk menyadarkan bahwa setiap peserta didik memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Di SMK Al-Mukhtariyah, ekstrakurikuler tari menjadi salah satu wadah terbaik untuk menyalurkan bakat, membangun kepercayaan diri, dan melestarikan budaya.

Bagi kamu yang ingin berkembang, jangan ragu untuk bergabung. Tidak hanya tari, masih banyak ekstrakurikuler menarik lainnya yang bisa kamu pilih sesuai minat dan bakatmu.

📢 Ayo jadi bagian dari SMK Al-Mukhtariyah!
Ikuti informasi dan kegiatan seru lainnya melalui media sosial kami:
📱 Instagram | TikTok | YouTube: @smkalmukhtariyah

atau klik link https://bit.ly/psb-smk-almukhtariyah

Scroll to Top