Pembiasaan Pagi Jumat di SMK Al-Mukhtariyah: Mengawali Hari dengan Al-Qur’an, Menumbuhkan Karakter dan Rasa Syukur

Bayongbong, 14 Agustus 2026 — Suasana pagi di SMK Al-Mukhtariyah pada Jumat (14/8/2026) terasa berbeda. Sebelum aktivitas pembelajaran dimulai, para siswa mengikuti kegiatan pembiasaan pagi yang diisi dengan kegiatan keagamaan dan pembacaan Al-Qur’an bersama.

Kegiatan yang dimulai sejak pagi tersebut dikoordinasikan oleh Asep Saepudin, S.Pd. dan Uun Unaisoh, S.Pd. Sementara rangkaian pengajian dan pembacaan Al-Qur’an dipimpin langsung oleh Asep Saepudin, S.Pd.

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan kondusif. Para siswa mengikuti setiap rangkaian dengan tertib dan kooperatif. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pembiasaan pagi Jumat dibimbing oleh dua guru koordinator yang berbeda setiap pekannya sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan serta keterlibatan guru dalam pembentukan karakter peserta didik.

Mengawali Pagi dengan Ayat-Ayat Al-Qur’an

Rangkaian kegiatan diawali dengan membaca Ayat Kursi, Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Setelah itu, siswa melanjutkan dengan membaca Surah Ar-Rahman.

Pemilihan Surah Ar-Rahman bukan tanpa alasan. Surah tersebut memiliki ayat yang berulang dengan pesan yang sangat kuat tentang rasa syukur kepada Allah SWT, yaitu pertanyaan mengenai nikmat Tuhan yang masih diberikan kepada manusia.

Melalui pembacaan tersebut, siswa diajak untuk menyadari bahwa kesempatan untuk kembali bertemu pada pagi hari dalam keadaan sehat merupakan salah satu bentuk nikmat yang patut disyukuri.

Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan nadoman, yaitu pepeling atau nasihat keagamaan yang disampaikan dalam bahasa Sunda dan bahasa Arab dengan menggunakan lagu atau nada. Nuansa tersebut membuat kegiatan keagamaan tidak hanya menjadi aktivitas membaca, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk menerima pesan-pesan moral dan keagamaan dengan cara yang dekat dengan budaya dan keseharian mereka.

Al-Qur’an sebagai Pionir Literasi dan Penenang Jiwa

Menurut Asep Saepudin, pembiasaan membaca Al-Qur’an memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar rutinitas keagamaan. Bagi seorang muslim, mencintai Al-Qur’an merupakan bagian penting dari kehidupan sekaligus menjadi upaya membangun kedekatan dengan kitab suci.

Sebagai seorang muslim sangat penting untuk mencintai kitab sucinya, sekaligus bacaan terapi alami penenang jiwa. Dijadikan pionir literasi sebelum ke bacaan lainnya,” ujar Asep.

Pesan tersebut menjadi salah satu landasan mengapa pembiasaan membaca Al-Qur’an terus dihadirkan di lingkungan sekolah. Literasi tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan membaca berbagai informasi, tetapi juga dimulai dari kecintaan terhadap bacaan yang menjadi pedoman hidup bagi seorang muslim.

Melalui kebiasaan tersebut, siswa diharapkan memiliki ruang untuk menenangkan diri sebelum menjalani aktivitas belajar dan berbagai dinamika kehidupan di sekolah.

Menanamkan Karakter Melalui Pembiasaan

Pembiasaan pagi juga diarahkan untuk membentuk karakter siswa secara menyeluruh. Menurut Asep, terdapat sejumlah nilai yang ingin ditanamkan melalui kegiatan tersebut, mulai dari kegemaran belajar dan berliterasi, kemampuan bersosialisasi, kecintaan terhadap agama, hingga kepedulian terhadap sesama.

Nilai karakter gemar belajar, berliterasi, bersosialisasi, mencintai agama dan peduli sesamanya,” ungkapnya.

Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan Jumat pagi saja. Pembiasaan menjadi langkah awal agar nilai yang diperoleh siswa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Asep menilai bahwa pendidikan karakter membutuhkan pondasi yang kuat. Nilai-nilai agama diharapkan menjadi salah satu dasar yang kemudian diterjemahkan ke dalam sikap, perilaku, kedisiplinan, serta cara siswa berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.

Diawali nilai-nilai agama sebagai pondasi dan Rasulullah sebagai teladan terbaik, maka diharapkan mampu mengimplementasikan secara komprehensif dalam karakter baik lainnya dalam kehidupan,” jelasnya.

Menyiram Hati dengan Kebaikan

Lebih dari sekadar kegiatan rutin, pembiasaan pagi Jumat diharapkan menjadi proses yang terus membentuk kepribadian siswa. Asep berharap siswa dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik dengan terus mendapatkan lingkungan dan kebiasaan yang positif.

Menjadi pribadi yang soleh dan solehah dengan terus disirami hal-hal baik, karena hati manusia itu gampang berubah, imannya naik turun. Diharapkan bisa terus konsisten dalam kebaikan dan menjadikan agama sebagai solusi dari setiap permasalahan hidup,” tuturnya.

Harapan tersebut menjadi pengingat bahwa pembentukan karakter bukanlah proses yang berlangsung dalam satu hari. Ia membutuhkan pembiasaan, keteladanan, konsistensi, serta lingkungan yang terus mengingatkan pada kebaikan.

Pada akhirnya, kegiatan Jumat pagi di SMK Al-Mukhtariyah bukan hanya tentang bagaimana siswa memulai hari dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk menanamkan rasa syukur, kecintaan terhadap agama, semangat berliterasi, kepedulian terhadap sesama, serta kebiasaan untuk menjadikan nilai-nilai kebaikan sebagai bagian dari kehidupan.

Sebab, pendidikan tidak selalu dimulai dari buku pelajaran. Terkadang, ia dimulai dari hati yang ditenangkan, rasa syukur yang ditumbuhkan, dan kebiasaan baik yang dilakukan berulang-ulang. Semoga setiap ayat yang dibaca pagi ini tidak berhenti di lisan, tetapi tumbuh menjadi kebaikan dalam sikap dan perbuatan setiap siswa SMK Al-Mukhtariyah.

Scroll to Top