Semangat Hari Kekayaan Intelektual Sedunia: Guru SMK Al-Mukhtariyah Hadirkan Karya Penuh Makna

Minggu, (26/4/ 2026) — Dalam rangka memperingati World Intellectual Property Day (Hari Kekayaan Intelektual Sedunia), SMK Al-Mukhtariyah menegaskan pentingnya menghargai setiap ide, kreativitas, dan karya sebagai bagian dari kekayaan intelektual yang bernilai.

Peringatan yang digagas oleh World Intellectual Property Organization (WIPO) ini diperingati setiap tanggal 26 April sebagai bentuk apresiasi terhadap para kreator di seluruh dunia. Hari ini mengajak kita untuk memahami bahwa setiap karya—baik berupa tulisan, desain, lagu, hingga karya digital—memiliki nilai, hak, dan potensi ekonomi yang besar.

Kekayaan intelektual sendiri dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti:

  • karya seni dan kerajinan tangan
  • desain busana dan produk kreatif
  • musik dan lagu
  • video, fotografi, dan media digital

Di lingkungan sekolah, semangat ini tercermin dari para guru yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menciptakan karya nyata sebagai inspirasi bagi siswa.

🎨 Karya Handmade: Dari Kain Perca Menjadi Cenderamata Penuh Makna

Salah satu karya inspiratif datang dari guru Bahasa Indonesia, Bapak Asep Saepudin, S. Pd. Gr, yang menciptakan kerajinan handmade berupa figura boneka

Karya ini berupa cenderamata figura boneka. Bagian latarnya 2 dimensi, sedangkan bonekanya 3 dimensi,” jelas beliau.

Karya tersebut lahir dari masa pandemi, ketika waktu luang dimanfaatkan untuk berkreasi.

Saya melihat kain perca sisa jahitan kakak yang tidak terpakai. Dari situ muncul ide untuk membuat sesuatu yang unik,” tuturnya.

Dengan memadukan kemampuan menjahit dan kreativitas visual, beliau menghasilkan karya yang detail—mulai dari pola boneka berukuran 13–15 cm, pakaian dari kain perca, hingga latar yang disesuaikan dengan momen lengkap dengan nama, quotes, dan lampu hias.

Karya ini bahkan pernah menjadi cinderamata untuk kepala sekolah yang purna bakti, yang dipadukan dengan emas logam mulia sebagai simbol penghargaan.

Selain itu, karya tersebut juga pernah ditampilkan dalam kegiatan P5 sebagai contoh nyata pemanfaatan barang bekas menjadi produk bernilai.

Karya indah tidak selalu dari sesuatu yang mahal. Dari barang bekas pun bisa menjadi sesuatu yang bernilai,” pesannya.

👗 Desain Busana Tari: Perpaduan Tradisional dan Modern

Kreativitas juga ditunjukkan oleh guru Seni Budaya, Bapak Moch Tri Teguh Zulkarnaen, S. Pd, melalui karya desain busana tari.

Inspirasi desainnya berasal dari adat istiadat tradisional Indonesia, yang kemudian dipadukan dengan sentuhan modern.

Ada yang dari inspirasi desainer, ada juga dari ide sendiri,” ujarnya.

Ciri khas desainnya terletak pada perpaduan keindahan, kenyamanan, dan nilai estetika, dengan proses kreatif yang dimulai dari pemilihan kain dan coraknya.

Saya lihat dulu kainnya, baru muncul ide desain yang cocok,” jelasnya.

Menurut beliau, karya desain sangat perlu dihargai karena prosesnya tidak sederhana.

Kalau pun meniru, harus dengan prinsip ATM: amati, tiru, modifikasi,” tegasnya.

Ia juga menambahkan pentingnya identitas karya, seperti memberi label dan tidak mengakui karya orang lain sebagai milik pribadi.

Dalam prosesnya, tantangan muncul saat harus menyesuaikan desain dengan nilai budaya dan agama. Namun dinamika dengan siswa justru menjadi bagian menarik.

Awalnya mereka menolak desain baru, tapi akhirnya bilang, ‘eh pak bagus oge bajunya’,” ujarnya sambil tersenyum.

🎶 Lagu Sekolah: Karya dari Hati untuk Identitas Sekolah

Karya lain hadir dari guru Bahasa Inggris, Nurhayati Kurnia, S. Pd. Gr (Bu Kiran), yang menciptakan lagu khusus SMK Al-Mukhtariyah.

Lagu ini dibuat sebagai bentuk kontribusi nyata untuk sekolah, agar dapat digunakan dalam berbagai kegiatan seperti promosi dan acara kelulusan.

Saya ingin membuat lagu yang bisa dipakai di berbagai acara sekolah,” ungkapnya.

Proses penciptaannya terbilang singkat. Dalam satu hari, beliau berhasil menyusun lirik sekaligus nadanya.

Lirik dan nadanya saya buat dalam sehari,” jelasnya.

Sementara untuk aransemen musik, beliau masih memanfaatkan referensi yang ada.

Kalau musiknya, saya mencari dari YouTube karena memang belum bisa membuat musik sendiri,” tambahnya.

Karya ini juga masih dalam tahap pengembangan. Proses rekamannya dilakukan secara sederhana dan belum menggunakan produksi profesional.

Rekaman tersebut melibatkan siswa kelas XII tahun ajaran 2025/2026, yakni Aspa dan Yuna, yang turut menyumbangkan suara mereka dalam praktik pembelajaran.

Saya kurang percaya diri dengan suara sendiri, jadi yang menyanyi anak-anak saat praktik musik,” ujarnya sambil tersenyum.

Meski masih sederhana, karya ini tetap memiliki makna mendalam sebagai langkah awal dalam membangun identitas sekolah melalui karya musik.

Baginya, menghargai karya adalah hal penting yang harus dimiliki setiap individu.

Buatlah karya karena suka, bukan karena ingin disukai,” pesannya.

Peringatan World Intellectual Property Day menjadi pengingat bahwa setiap ide yang diwujudkan adalah sebuah aset berharga.

Di SMK Al-Mukhtariyah, para guru telah menunjukkan bahwa kreativitas dapat lahir dari mana saja dari kain perca, budaya tradisional, hingga nada sederhana yang semuanya menjadi bukti bahwa karya adalah identitas dan warisan intelektual.

Mari terus berkarya, berani berinovasi, dan saling menghargai hasil cipta satu sama lain. Karena dari karya sederhana hari ini, bisa lahir perubahan besar di masa depan.

Scroll to Top