
Di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat, keberadaan arsip sering kali dianggap sepele oleh sebagian orang. Padahal, di balik setiap dokumen yang tersimpan rapi, terdapat informasi penting, bukti pekerjaan, hingga jejak profesionalitas seseorang maupun sebuah instansi. Berangkat dari pentingnya hal tersebut, peserta didik kelas XI jurusan Manajemen Perkantoran melaksanakan kunjungan edukatif ke Perpustakaan Umum Garut pada Senin, 18 Mei 2026 dalam rangka memperingati Hari Kearsipan Nasional.

Kegiatan ini didampingi oleh empat guru pendamping, yaitu Ibu Rizki Septiani, S.Pd.I Bapak Deden Yudi, SE, Bapak Dimas Setiawan, SE, serta Ibu Luthfi Azizaussa’diyah, S.Pd.

Dalam wawancara bersama Ibu Rizki Septiani, S.Pd.I selaku guru produktif Manajemen Perkantoran, beliau menyampaikan bahwa kunjungan tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni memperingati Hari Kearsipan Nasional sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada siswa mengenai pentingnya pengelolaan arsip di dunia kerja nyata.
“Peserta didik Manajemen Perkantoran perlu mengenal arsip secara langsung karena nantinya mereka akan bekerja di bidang administrasi yang membutuhkan praktik kearsipan nyata,” ungkapnya.
Tidak hanya sekadar melihat koleksi buku dan ruang arsip, siswa juga diajak memahami bagaimana sebuah dokumen dikelola dengan sistematis, aman, dan mudah ditemukan kembali. Menurut beliau, di era modern saat ini, kearsipan tidak lagi identik dengan tumpukan map dan lemari penuh dokumen seperti dahulu.
“Sekarang banyak kantor sudah menggunakan e-office, arsip digital, dan cloud. Tetapi prinsipnya tetap sama, dokumen harus aman, mudah ditemukan, dan bisa dipertanggungjawabkan. Kalau arsip berantakan, perusahaan bisa mengalami kerugian bahkan terkena sanksi,” jelasnya.

Beliau juga menambahkan bahwa kemampuan kearsipan saat ini harus berjalan seiring dengan kemampuan teknologi. Siswa tidak hanya dituntut rapi dalam administrasi, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan sistem digital yang digunakan di dunia industri modern.
Dalam kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan mampu membawa pulang tiga nilai penting, yaitu ketelitian, tanggung jawab, dan budaya literasi. Ketelitian menjadi hal utama karena kesalahan kecil dalam pengelolaan arsip dapat berdampak besar bagi perusahaan. Sementara tanggung jawab diperlukan karena satu dokumen yang hilang dapat memunculkan berbagai masalah administratif.
Selain itu, budaya literasi juga menjadi perhatian penting di tengah kebiasaan generasi sekarang yang sering mengandalkan informasi instan dari internet.
“Di sini mereka belajar mencari informasi yang benar, bukan hanya Googling asal-asalan. Itu akan menjadi bekal kuat ketika mereka masuk dunia kerja nanti,” tambahnya.

Menurut Ibu Rizki, arsip bukan hanya sekadar kumpulan kertas atau file digital, melainkan bentuk kepercayaan yang harus dijaga dengan baik.
“Arsip itu seperti jejak digital dan fisik dari suatu pekerjaan. Kalau rapi, orang akan melihat kita profesional. Tapi kalau berantakan, orang akan sulit percaya terhadap kinerja kita,” tuturnya.
Beliau juga memberikan pesan mendalam kepada para siswa bahwa belajar kearsipan sejatinya bukan hanya belajar mengelola dokumen, tetapi juga belajar menjaga amanah dan profesionalitas.
“Mulailah dari dokumen kecil, karena dari situlah profesionalitas besar terbentuk. Satu dokumen yang hilang bisa menghilangkan kepercayaan orang,” pesannya.
Kegiatan Kunjungan Perpustaakan Umum Garut

Setelah mendapatkan pemaparan mengenai pentingnya arsip dan budaya literasi dari guru pendamping, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi observasi langsung di berbagai fasilitas yang ada di Perpustakaan Umum Garut. Pada sesi ini, peserta didik tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga melihat secara nyata bagaimana sistem pengelolaan informasi, pelayanan perpustakaan, hingga pemanfaatan teknologi digital diterapkan dalam dunia kearsipan modern.
Melalui berbagai aktivitas edukatif tersebut, siswa diajak memahami bahwa kemampuan administrasi dan kearsipan di era sekarang harus berjalan beriringan dengan kemampuan literasi, teknologi, komunikasi, dan ketelitian dalam bekerja. Pengalaman belajar langsung inilah yang menjadi salah satu nilai utama dalam peringatan Hari Kearsipan Nasional tahun ini.

Kearsipan kini tidak lagi hanya tentang lemari dan map dokumen. Melalui sistem pencarian digital perpustakaan, siswa belajar bagaimana teknologi membantu pengelolaan arsip menjadi lebih cepat, akurat, dan efisien. Sebuah pengalaman nyata yang relevan dengan dunia kerja modern saat ini

Menariknya, peserta didik juga mendapat pendampingan langsung dari siswa yang sedang melaksanakan PKL di perpustakaan. Interaksi ini menjadi gambaran nyata bahwa dunia belajar dan dunia kerja saling terhubung melalui pengalaman, komunikasi, dan praktik langsung di lapangan

Tidak hanya membaca, peserta didik juga melakukan diskusi ringan mengenai informasi dan pengetahuan yang mereka temukan dari buku bacaan. Melalui kegiatan ini, siswa belajar menyampaikan pendapat, bertukar pemikiran, serta melatih kemampuan komunikasi dan berpikir kritis yang sangat dibutuhkan di dunia kerja modern


Di tengah derasnya arus informasi digital, peserta didik kelas XI Manajemen Perkantoran diajak kembali membangun budaya literasi melalui kebiasaan membaca. Dari halaman demi halaman buku, siswa belajar bahwa pengetahuan yang kuat tidak selalu datang dari informasi instan, tetapi dari proses memahami dan mencari sumber yang tepat.

Peserta didik terlihat aktif mencari dan memilih buku secara langsung di area rak perpustakaan sebelum melanjutkan kegiatan membaca bersama. Melalui aktivitas ini, siswa belajar membangun kebiasaan literasi, mengenal berbagai sumber informasi, serta memahami bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh dari internet, tetapi juga dari buku dan referensi terpercaya yang tersedia di perpustakaan



Peserta didik juga diajak mengunjungi theater mini perpustakaan untuk menyaksikan tayangan mengenai asal-usul Kota Garut. Melalui tayangan tersebut, siswa belajar bahwa arsip dan dokumentasi memiliki peran penting dalam menjaga sejarah, budaya, serta identitas suatu daerah agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Salah satu peserta didik dari kelas XI Manajemen Perkantoran 1, Ai Fitri, mengaku merasa sangat senang dan antusias mengikuti kegiatan kunjungan ke Perpustakaan Umum Garut dalam rangka Hari Kearsipan Nasional. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru sekaligus menambah wawasan tentang pentingnya perpustakaan dan arsip dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menjelaskan bahwa selama kegiatan berlangsung, dirinya mulai memahami bahwa arsip bukan sekadar tumpukan dokumen, melainkan sumber informasi penting sekaligus bukti sejarah yang harus dijaga dengan baik. Selain itu, kegiatan literasi juga membuatnya menyadari bahwa membaca bukan hanya soal melihat tulisan, tetapi bagaimana seseorang mampu memahami dan memilih informasi yang benar serta bermanfaat.
“Literasi membantu kita memahami dan memilih informasi yang benar dan bermanfaat,” ungkapnya.
Menurut Ai Fitri, pengelolaan arsip tetap memiliki peran penting meskipun saat ini hampir semua data sudah berbasis digital. Ia menilai bahwa dokumen tetap harus tersusun rapi, aman, dan mudah ditemukan kembali ketika dibutuhkan. Bahkan, ia juga menyoroti risiko hilangnya data digital apabila tidak disimpan dengan baik.
“Kalau semua hanya disimpan di HP tanpa arsip yang jelas, bisa saja sewaktu-waktu hilang atau terhapus,” tuturnya.
Di balik suasana edukatif tersebut, terdapat pula pengalaman seru yang paling membekas baginya, yaitu ketika siswa mendapat tugas dari guru pembimbing untuk mencari buku arsip tertentu di area perpustakaan. Dengan penuh semangat, para siswa terlihat sibuk menyusuri rak demi rak buku.
“Bukunya memang tidak ketemu, tapi seru karena jadi lari ke sana ke sini sambil mencari. Lumayan nguras energi, tapi menyenangkan,” katanya sambil tertawa.

Sementara itu, peserta didik lainnya dari kelas XI Manajemen Perkantoran 2, Iip, juga mengungkapkan rasa senang dan bangga dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kunjungan ini membuat dirinya semakin memahami bahwa arsip merupakan bukti sejarah yang sangat berharga dan perlu dijaga keberadaannya.
Ia menilai bahwa di era digital sekarang, pengelolaan arsip tetap sangat penting sebagai sumber rujukan yang sah serta bagian dari identitas sebuah lembaga maupun bangsa. Namun, menurutnya, sistem pengelolaan arsip juga harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital saat ini.
Bagian yang paling menarik bagi Iip adalah ketika melihat langsung ruang penyimpanan dan dokumen sejarah yang ada di perpustakaan. Pengalaman tersebut memberinya kesan mendalam karena terasa seperti diajak melihat dan mengenal masa lalu secara nyata melalui arsip yang tersimpan.
“Kegiatan ini bikin saya lebih sadar pentingnya mencari informasi dari sumber yang valid supaya pengetahuan yang didapat benar dan terpercaya,” ujarnya.
Meski kegiatan berlangsung cukup padat hingga membuat dirinya sempat merasa lapar karena belum sempat makan, Iip menganggap hal tersebut tetap menjadi bagian dari pengalaman dan kenangan selama kegiatan berlangsung.
“Ya begitulah Bu, ada hal-hal yang jadi kenangan selain pengetahuan,” katanya sambil tersenyum.

Peringatan Hari Kearsipan Nasional ini menjadi pengingat bahwa budaya literasi, ketelitian, dan tanggung jawab merupakan keterampilan penting yang harus dimiliki generasi muda di era digital. Melalui kegiatan kunjungan ini, diharapkan siswa tidak hanya memahami pentingnya arsip, tetapi juga mulai membangun kebiasaan membaca, mencari informasi yang valid, serta memiliki sikap profesional sejak di bangku sekolah.
SALAM LITERASI